ImageBerbagi Rezeki Tuk Lansia Dhuafa Pejuang Nafkah...
Image

Berbagi Rezeki Tuk Lansia Dhuafa Pejuang Nafkah

Rp 9.310.470 terkumpul dari Rp 151.645.000
130 Donasi 3 bulan, 25 hari lagi

Penggalang Dana

Image
Image
Verified Organization

Keterangan

Entah sampai kapan para lansia dhuafa bertarung melawan kerasnya kehidupan, mengais rupah agar sebatas bisa makan. Sepertinya hingga napas terakhir berhembus pun hidup mereka akan selalu menjadi perjuangan.....

Bagi sebagian orang, usia 75 tahun adalah masa untuk beristirahat dan menikmati hari tua. Namun tidak bagi Abah Jaya. Di usia senja, ia masih harus berjalan kaki berkeliling kota demi mencari nafkah.

Punggungnya telah membungkuk dan langkahnya tidak lagi kuat seperti dulu. Napas sering terengah, tetapi ia tetap membawa dagangannya: beberapa sisir pisang yang dijual seharga Rp5.000 per sisir.

Penghasilannya tidak menentu. Ada hari ketika ia hanya membawa pulang sekitar Rp20.000. Ada pula hari ketika tak satu pun dagangannya laku. Bahkan pernah selama 2 atau 3 hari pisang yang ia bawa tidak terjual hingga akhirnya membusuk. Agar tidak terbuang dan supaya tetap bisa makan, Abah pun memakannya sendiri.

Baginya, berhenti bukan pilihan.

“Kalau saya tidak jualan, saya dan istri mau makan apa?” ujarnya.

Perjalanan berkeliling kota itu pun tidak mudah. Setiap beberapa langkah, Abah harus berhenti. Sekitar 20 meter berjalan, ia duduk sejenak di pinggir jalan untuk mengatur napas yang terasa sesak. Setelah cukup kuat, ia kembali berdiri dan melanjutkan langkahnya, membawa harapan dagangannya akan laku hari itu.

**

Di sudut lain, kerja keras tanpa berkesudahan juga dialami oleh lansia bernama Abah Arsad (74). Setiap hari tak pernah mengenal istirahat.

Abah Arsad masih harus mati-matian mencari nafkah. Dengan sepeda tuanya, ia berkeliling hampir 30 kilometer setiap hari untuk menjajakan sapu.

Sapu-sapu itu ia jual hanya Rp5.000 per buah. Penghasilannya pun sangat tidak menentu. Jika beruntung, ia bisa membawa pulang sekitar Rp30.000 dalam sehari. Namun tak jarang juga ia pulang tanpa hasil karena dagangannya tidak laku.

Meski perut sering kosong dan tubuhnya terasa lemah, Abah tetap mengayuh sepeda tuanya perlahan dari satu tempat ke tempat lain, berharap ada orang yang mau membeli sapunya.

Di rumah, ada seseorang yang menunggunya. Ia tinggal berdua dengan sang istri yang sudah lebih dari lima tahun kesehatannya kerap menurun. 

Dia lah yang membuat Abah Arsad tetap semangat. Mengayuh sepeda tuanya, membawa sapu-sapu yang sederhana, sambil berharap hari itu rezekinya datang.

**

Sahabat, mari kita mengulurkan tangan kepada sosok-sosok pekerja keras yang seumur hidup hanya paham berjuang tanpa pernah merasakan seperti apa itu hidup tenang.

Dengan donasi terbaik yang kamu titipkan, bersama kita bantu meringankan kebutuhan harian mereka untuk hidup lebih layak

Kirim bantuan dengan cara:

1. Klik "DONASI SEKARANG"

2. Masukkan nominal donasi

3. Pilih metode pembayaran 

4. Klik "DONASI" dan ikuti langkah selanjutnya

Kabar Terbaru

Donatur (130)

Orang Baik13 hari yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 34.083
Hamba allah19 hari yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 50.447
Hamba Allah19 hari yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 54.599
Neneng Sm Teguh20 hari yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 54.628
Febriana21 hari yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 50.434

Doa-doa orang baik

Menanti doa-doa orang baik

Bagikan melalui:
✕ Close