
Sebagian wajah Pak Nursalim tertutup benjolan daging berdarah. Sudah 10 tahun terakhir tumor tumbuh di wajah Pak Nursalim. Kini, tumor itu sudah menutupi sebagian wajahnya mengeluarkan nanah, bahkan berulat. Wajahnya tak sempurna, tubuhnya menahan sakit. Pak Nursalim bertahun-tahun tidak pernah berobat.

Usianya Sudah 68 Tahun, harus berjuang bertahan hidup. Ia bercerita, awalnya bisul muncul di pipi kanannya, lalu esoknya membesar dan pecah. Saat itu Pak Nursalim tak bisa berobat karena tak punya uang. Akhirnya hanya dibersihkan pakai kain dan dikompres. Ternyata lukanya menjadi infeksi dan menjadi tumor ganas. Kini, kondisi wajah Pak Nursalim hanya ditutupi dengan tisu dan kapas.

Sebelumnya Pak Nursalim bekerja sebagai buruh kuli bangunan, mengerjakan semua tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Namun, para pekerja yang lain banyak yang protes karena takut dan jijik dengan wajahnya yang penuh dengan tumor yang mengeluarkan bau tak sedap, sehingga Pak Nursalim pun diberhentikan. Sejak saat itu, Pak Nursalim mengurung diri di rumah enggan untuk keluar rumah.
“Orang-orang pada takut dan jijik kalo liat wajah saya, siapa yang mau nerima saya kerja, kalo kondisi saya begini, padahal saya kerja untuk biaya saya berobat.” -ujar Pak Nursalim
Setiap hari, Pak Nursalim merasakan sakit yang teramat dahsyat sehingga darah selalu mengucur deras dari tumornya. Di sisi lain, Pak Nursalim berjuang bertahan hidup melawan penyakit yang dideritanya, beliau sangat bersyukur memiliki istri yang setia menemani dan merawatnya selama ini.
"Saya sangat berterima kasih sama istri saya. Istri saya itu sabar sekali merawat saya selama 10 tahun lebih. Saya rasa gak ada yang sesabar istri saya," ucap Pak Nursalim dengan penuh haru.
Ibu Wati juga dengan telaten mengurus suaminya, membersihkan darah dan ulat-ulat kecil yang ada pada tumor di wajah suaminya.

Namun, hidup tidak selalu mudah bagi mereka. Cemoohan dari orang-orang tak jarang menghujam hatinya, menyebut Pak Nursalim dengan kata-kata seperti "kutukan," "manusia mirip monster," dan "suami tak berguna."
Semenjak Pak Nursalim diberhentikan dari pekerjaannya, kini sang istri Ibu Wati berjualan gorengan keliling dengan berjalan kaki sejauh 10 Km setiap hari dengan pendapatan hanya 15rbu– 25rbu rupiah. Ibu Wati berjuang mati-matian untuk menyambung hidup dan demi bisa cari biaya berobat suami, meski hanya mendapatkan keuntungan kecil dari penjualannya.

Tak jarang pak Nursalim dan bu Wati hanya makan dengan nasi dan lauk dari sisa gorengan yang tak laku pada hari itu. Bahkan, suami istri ini kerap hanya makan nasi tanpa lauk untuk menabung agar Pak Nursalim bisa berobat.
“Saya suka sedih melihat kondisi suami semakin parah, saya enggak bisa bawa suami berobat ke rumah sakit karena saya enggak punya uang untuk berobat.”-ungkap Ibu Wati

Namun, untuk makan sehari-hari saja sulit, apalagi membayar iuran BPJS. Ibu Wati harus bersabar mengumpulkan sedikit demi sedikit uang untuk membeli salep dan pereda nyeri di apotik untuk suaminya.
#OrangBaik, Maukah kamu membantu pak Nursalim untuk sembuh dan membuat senyum bahagia di wajah pak Nursalim dan bu Wati? Kita bisa berikan harapan kesembuhan untuknya. Sedikit dari kita, bisa jadi amat berarti untuknya. Yuk donasi untuk pengobatan tumor Pak Nursalim dengan cara:
Terima Kasih Orang Baik!
Donasi dari galang dana ini juga akan digunakan untuk penerima manfaat dengan kondisi dan kebutuhan serupa lainnya di bawah naungan Gerbang Kebaikan Lampung.
![]()
Menanti doa-doa orang baik