ImagePerjuangan Sebatang Kara Tanpa Henti di Sisa Usia...
Image

Perjuangan Sebatang Kara Tanpa Henti di Sisa Usia

Rp 4.101.834 terkumpul dari Rp 150.000.000
73 Donasi sudah berakhir

Penggalang Dana

Image
Image
Verified Organization

Keterangan

Hidup sebatang kara adalah perjalanan yang penuh dengan tantangan dan kesepian. Tanpa keluarga yang mendampingi, tanpa orang-orang yang mengerti dan peduli, mereka yang hidup sendirian harus bertahan dalam kesendirian dan ketidakpastian. Mereka bukan hanya berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makan dan tempat tinggal yang layak, tetapi juga untuk merasakan kasih sayang dan perhatian yang seharusnya mereka terima di usia senja.

Perjuangan sebatang kara Nenek Rumsiah (79th), setiap hari melangkahkan kakinya yang lemah menyusuri jalanan kota, menjajakan kue demi memenuhi kebutuhan hidup. Tubuhnya yang renta dan napas yang tersengal karena penyakit asma tak mampu menghentikan tekadnya untuk berjuang. Setiap hari, ia berharap dagangannya habis agar ia bisa mendapat upah yang sangat sedikit, hanya sekitar Rp 20 ribu. Namun, kenyataan sering berbicara lain. Kue-kue yang dibawanya sering kali tak laku, dan ia pulang dengan tangan hampa.”Nenek sudah nggak kuat lagi jalan jauh, badan lemas. Tapi kalau nggak jualan, gimana bisa makan” ujar nenek rumsiah.

Perut yang kosong sering kali menghantui Nenek Rumsiah dan tubuh yang lemas memaksanya untuk berhenti sejenak di pinggir jalan. Dengan tubuh yang semakin lelah, nenek hanya bisa duduk, beristirahat sambil menahan rasa lapar yang mendera. 

Di rumahnya yang nyaris roboh, Nenek Rumsiah hidup seorang diri. Atap yang bocor dan lantai tanah menjadi saksi bisu perjuangannya. Setiap hari, ia berjuang bukan untuk kaya, tapi untuk bisa mengisi perut dan mendapatkan tempat yang layak untuk tinggal.

Nenek Rumsiah berharap dapat menghabiskan sisa hidupnya tanpa rasa lapar, memiliki tempat tinggal yang nyaman tanpa harus khawatir akan atap yang bocor saat hujan, serta memiliki usaha yang bisa dijalankan dari rumah, karena semakin tua, nenek merasa tak mampu lagi berkeliling untuk berjualan.

Perjuangan yang tak kalah hebat datang dari kisah kakek suryatim si penjual pisang.

Kakek Suryatim (68th), pria yang hidup sebatang kara, pernah memiliki keluarga hingga pernikahannya retak karena perselingkuhan. Sejak itu, ia menjalani hidup sendirian, menumpang di rumah kosong milik tetangga. Setiap hari, ia berjualan pisang dengan penghasilan tak menentu. Sering kali dagangannya tak laku, membuatnya harus menahan lapar. Di usianya yang renta, ia hanya berharap memiliki rumah sendiri agar tak terus bergantung pada orang lain. "Saya hanya ingin punya rumah sendiri di sisa usia tua ini," ujar kakek Suryatim 

Diusia yang semakin tua kakek suryatim menghadapi situasi sulit. Tubuhnya semakin lemah, sementara penghasilan dari berjualan pisang sering tak mencukupi, bahkan untuk makan. Dagangannya yang tak laku kerap membuatnya harus tidur dengan perut kosong.

Namun, Kakek Suryatim bermimpi memiliki rumah kecil yang bisa ia tinggali tanpa rasa takut. Sebuah tempat yang bisa ia sebut sebagai miliknya sendiri, di mana ia tidak perlu lagi menumpang atau merasa khawatir akan diusir. 

Tak hanya Nenek Rumsiah dan Kakek Suryatim tetapi ada Nenek Khodijah seorang lansia yang hidup dalam ketakutan dan kesendirian.

Nenek Khodijah (57 tahun) bekerja sebagai buruh koret halaman untuk bertahan hidup, meski usianya sudah renta. Penghasilannya tidak menentu, sering kali hanya Rp30.000 sehari, atau bahkan tidak mendapat apa-apa meskipun sudah berkeliling menawarkan jasa.

Dengan penghasilan yang sangat minim, ia hanya mampu makan nasi dicampur air dan garam. Kondisi nenek semakin melemah seiring bertambahnya usia, dengan punggung yang menonjol akibat kelainan sejak kecil sering kali terasa sakit, namun ia tak mampu membeli obat.

Nenek Khodijah hidup sendirian tanpa suami dan keluarga, karena keluarganya mengasingkannya akibat kondisinya yang cacat. Meski diabaikan, nenek tetap bertahan di rumah kecilnya. "Mau hidup atau mati, nenek hanya ingin tinggal di sini," ujarnya dengan pasrah.

Di usia yang semakin tua dan kondisi tubuh yang semakin lemah, mereka terus bertahan hidup, meski dalam kesendirian yang menyakitkan. Kehidupan yang mereka jalani penuh dengan kesederhanaan dan perjuangan tanpa henti. Bagi mereka, hari-hari yang berlalu hanya sekadar untuk bertahan hidup, mencari sesuap nasi, dan memiliki tempat tinggal yang layak.

Mari bantu mereka setiap bantuan yang kalian berikan, sekecil apapun, akan sangat berarti bagi mereka. Semoga dengan bantuan kita, mereka bisa merasakan sedikit kebahagiaan dan ketenangan di sisa hidup mereka yang penuh perjuangan.

#OrangBaik, mari bersama-sama dukung perjuangan Nenek Rumsiah, Kakek Suryatim, Nenek Khodijah, dan lansia sebatang kara lainnya agar kehidupannya menjadi lebih layak dengan cara:

1.⁠ ⁠Klik tombol “DONASI SEKARANG”
2.⁠ ⁠Masukkan nominal donasi
3.⁠ ⁠Pilih metode pembayaran transfer Bank
4.⁠ ⁠Dapatkan laporan melalui WhatsApp paling lambat 2x24 jam setelah berdonasi. 

Terima Kasih Orang Baik!

Donasi dari galang dana ini juga akan digunakan untuk penerima manfaat anak lainnya di bawah naungan Gerbang Kebaikan Indonesia.

Penafian : Hasil penggalangan dana ini akan dibelikan tanah dan di bangunkan rumah, juga untuk modal usaha, dan bantuan pangan. Jika ada kelebihan donasi, akan disalurkan dalam program respek yatim piatu. Informasi lebih lanjut dari penggalangan dana ini, bisa hub 087771838123

Kabar Terbaru

Donatur (73)

Hamba Allah8 bulan yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 54.670
Muga1 tahun yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 29.677
Orang Baik1 tahun yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 30.386
Hamba allah1 tahun yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 14.562
AIS1 tahun yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 30.381

Doa-doa orang baik

Menanti doa-doa orang baik

Bagikan melalui:
✕ Close