
“Ngojek sekarang bener-bener sepi Mas. Apalagi kondisi saya kayak gini. Ada yang buang muka, ada yang nggak jadi naik, bahkan anak-anak ada yang sampai lari ketakutan. Sedangkan saya tiap pulang harus bawa uang buat beli beras, juga buat berobat..”, lirih Pak Hasan.
Sudah 8 tahun lamanya, Pak Hasan (54) harus hidup dengan tumor yang bersarang di pipi kirinya. Selama itu pula beliau belum pernah memeriksakan penyakitnya ke dokter atau rumah sakit. Bukan karena tidak mau, namun karena tak punya biaya yang sama sekali.

Benjolan di pipi sebelah kiri yang awalnya kecil, kini sudah menjadi monster ganas yang membuat Pak Hasan menderita setiap harinya. Benjolan itu sering luka, hingga mengeluarkan darah dan bau tak sedap. Bahkan rasa sakit yang ditimbulkan sudah menjalar ke seluruh tubuh rentanya.
Namun hebatnya, dia harus menahan rasa sakit itu setiap hari demi bisa terus bekerja jadi tukang ojek agar istri dan anaknya bisa makan, juga demi bisa mengumpulkan biaya pengobatannya.
"Pegel dan sakit rasanya. Seperti mikul beras 5kg. Tapi mau bagaimana lagi saya harus tetap kerja buat biaya berobat. Anak dan istri saya juga bisa kelaparan kalau saya tidak narik..."

Sayangnya, mendapatkan penumpang dengan kondisi seperti Pak Hasan bukanlah perkara mudah. Pelanggan-pelanggannya banyak yang tidak mau karena takut dengan Pak Hasan. Bahkan pernah seharian menunggu, tidak ada satupun pelanggan yang mau diantarnya.
“Kadang saya coba tutupin pakai kain biar nggak bikin orang takut. Tapi sama saja…”

Saking ingin terus mencukupi kebutuhan anak istrinya di rumah, Pak Hasan pernah pingsan saat mangkal di pos ojeknya. Badannya gemetaran karena asupan nutrisi yang masuk ke tubuh rentanya tidak sebanding dengan aktivitas beliau. Beliau hanya bisa menahannya sambil menangis.
Sepinya pelanggan juga membuat Pak Hasan harus memutar otak agar anak istrinya bisa makan. Beliau terpaksa menjual motor satu-satunya yang selama ini beliau gunakan untuk mengojek.
“Terpaksa saya jual motor saya. Saya udah gak kuat nahan sakitnya setiap hari Mas. Saya berharap bisa berobat, kalau ada sisa mau buka warung saja di rumah…”

Ya Allah, rasanya tak sanggup membayangkan jika harus menjadi Pak Hasan. Beliau terpaksa menahan sakit, demi bisa terus bekerja mengumpulkan biaya berobat dan terus menghidupi anak istrinya. Tanggung jawabnya sebagai tulang punggung keluarga sangatlah luar biasa.
***
#OrangBaik, maukah kamu membantu Pak Hasan agar beliau bisa berobat, selamat, dan bisa terus berjuang agar anak istirnya hidup layak? Yuk kita bantu Pak Hasan, dengan cara:
Terima kasih, #OrangBaik!
![]()
Menanti doa-doa orang baik