Meski usianya tak lagi muda dan tubuhnya melemah, Kakek Suryatim terus berjualan pisang keliling, melawan sepi di jalanan yang terkadang tak berpihak padanya.

Kakek Suryatim (68 tahun) pria sebatangkara yang telah lama kehilangan keluarganya. Dulu, ia hidup bersama istri dan anak-anaknya, namun kehidupannya berubah saat pernikahannya retak karena perselingkuhan. Istrinya pergi membawa anak-anak mereka, meninggalkan Kakek dalam kesepian yang mendalam.
Sejak saat itu, ia berjuang sendirian, tanpa tempat yang bisa disebut rumah. Saat ini, Kakek hanya numpang tinggal di rumah kosong milik tetangga, rumah yang tak terpakai dan hanya dipinjamkan untuk sementara waktu.
Setiap pagi, Kakek Suryatim memulai harinya dengan harapan yang tipis, namun semangat yang tetap terjaga. Dengan tubuh renta, beliau menyusuri jalan-jalan kecil, membawa keranjang pisang di pundaknya, berharap ada satu atau dua pembeli yang bersedia membeli dagangannya.
Kadang, langkah kaki tuanya terasa lebih berat daripada biasanya, terutama saat dagangannya jarang laku. Namun, Kakek tak pernah menyerah, walau sering kali pisang yang dibawanya harus berakhir busuk tanpa dibeli.
Kesendirian semakin terasa di usia tuanya, di mana semestinya seorang pria seusianya bisa menikmati masa pensiun bersama keluarga tercinta. Namun, Kakek Suryatim harus menerima kenyataan pahit bahwa ia tak punya siapa-siapa lagi.
Rumah tempatnya tinggal hanyalah sebuah bangunan pinjaman yang sewaktu-waktu bisa diminta kembali oleh pemiliknya. Tanpa keluarga, tanpa jaminan, Kakek menjalani hari-harinya dalam kesederhanaan yang memprihatinkan.

Pendapatan Kakek dari berjualan pisang sangatlah sedikit, hanya sekitar 15-30 ribu per hari, itupun jika ada pembeli yang bersedia membeli dagangannya. Dengan penghasilan yang tak menentu ini, Kakek sering harus menahan lapar.
Uang yang diperolehnya sering kali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi untuk mewujudkan mimpi terbesarnya memiliki rumah sendiri di masa tuanya. Ia tak ingin merepotkan orang lain atau terus hidup dalam pinjaman.
“Saya tidak ingin merepotkan orang lain, saya hanya ingin punya rumah sendiri disisa usia tua ini” ujar kakek Suryatim dengan suara lirih.
Kakek Suryatim saat ini berada dalam situasi genting. Usianya semakin tua, kekuatannya semakin berkurang, sementara penghasilan dari dagangannya hampir tidak cukup untuk bertahan hidup, apalagi untuk menabung guna membeli rumah sendiri.
Pisang yang sering kali tidak terjual menjadi gambaran nyata bagaimana Kakek berjuang keras melawan ketidakpastian. Ia kerap tidur dengan perut kosong, karena hasil dagangannya tidak cukup untuk makan.
Setiap langkah yang diambil Kakek semakin berat, sementara impian memiliki tempat tinggal yang aman semakin jauh dari jangkauan.
“Kadang saya jualan seharian, kalau ngga ada yang beli saya tahan lapar, pisang busuk ya apa boleh buat” ujar kakek Suryatim.
Namun, Kakek Suryatim tetap menyimpan harapan. Di usianya yang senja, ia bermimpi memiliki rumah kecil yang bisa ia tinggali tanpa rasa takut. Sebuah tempat yang bisa ia sebut sebagai miliknya sendiri, di mana ia tidak perlu lagi menumpang atau merasa khawatir akan diusir.
Mari bersama-sama kita bantu Kakek Suryatim dengan cara:
1. Klik tombol “DONASI SEKARANG”
2. Masukkan nominal donasi
3. Pilih metode pembayaran transfer Bank
4. Dapatkan laporan melalui WhatsApp paling lambat 2x24 jam setelah berdonasi.
Terima Kasih Orang Baik!
Donasi dari galang dana ini juga digunakan untuk lansia lainnya di bawah naungan Gerbang Kebaikan Indonesia.