
“Bu, boleh tukar mainan ini dengan sebungkus nasi?” lirih Abah Suhemi atau Abah Kemi (74 tahun).
Siang itu, perutnya kosong setelah berjalan jauh. Tak satu pun mainan dagangannya laku. Lapar memaksanya menukar mainan yang ia jual demi sesuap nasi.

Namun perjuangannya tidak berhenti di situ. Nasi bungkus yang akhirnya ia dapatkan, tidak ia habiskan. Dengan tangan yang gemetar, ia hanya makan beberapa suap untuk menahan lapar. Sisanya ia bungkus lagi dan dibawa pulang, untuk anaknya yang hidup dengan gangguan jiwa (ODGJ).
“Kalau dia lapar dan nggak ada makanan, dia suka ngamuk, teriak-teriak. Hati saya sakit,” tutur Abah Kemi pelan.
Bagi Abah, melihat anaknya kenyang jauh lebih penting daripada dirinya sendiri. Itulah pengorbanan seorang ayah yang juga difabel, yang tetap berjuang seorang diri setelah sang istri berpulang.

Setiap hari, dengan satu kakinya yang bengkok dan mengecil, Abah Kemi menjajakan mainan keliling kampung. Dari satu mainan yang laku, ia hanya mendapat Rp1.000 – Rp3.000. Sering kali ia terjatuh di jalan, tapi selalu bangkit lagi dan melangkah pelan.

Di tengah lapar dan letih, ada satu hal yang tak pernah ia tinggalkan, yaitu shalat.
Di mana pun adzan berkumandang, ia akan menggelar alas seadanya di pinggir jalan dan bersujud.
“Masjid jauh, Nak… makanya Abah shalat di sini,” ucapnya dengan senyum tipis.

#OrangBaik, saat banyak dari kita menikmati makanan yang begitu lezat. Abah Kemi mungkin hanya bisa menyisakan sedikit nasi untuk anaknya. Pengorbanan seorang ayah ini terlalu berat jika harus dipikul sendirian. Mari bantu perjuangan Abah Kemi dengan cara:
Kalian juga bisa membantu dengan menyebarkan halaman galang dana ini ke orang-orang terdekat agar semakin banyak yang ikut membantu Abah Kemi.
![]()
Menanti doa-doa orang baik