
Napasnya terengah. Dadanya naik turun menahan sesak yang kian menghimpit. Di usia 70 tahun, Abah Mista tetap melangkah pelan menyusuri jalanan, memanggul anyaman bambu yang ia buat dengan tangannya sendiri.

Asma yang dideritanya sering kambuh. Namun sakit itu tak pernah benar-benar bisa membuatnya berhenti.
Setiap hari, Abah berkeliling lebih dari 15 kilometer. Dari satu kampung ke kampung lain, dari satu gang ke gang berikutnya. Dalam keadaan dada terasa seperti diremas, dan perut yang sering kali kosong karena belum terisi makan sejak pagi.
Anyaman bambu yang ia jual dihargai hanya 10 sampai 15 ribu rupiah, tergantung ukuran. Dari setiap lembar yang terjual, keuntungan yang Abah dapatkan hanya sekitar 2.000 rupiah. Uang sekecil itu harus cukup untuk menyambung hidupnya dan sang istri di rumah.
Tak jarang, seharian penuh berkeliling, tak satu pun dagangan laku.
Pernah suatu hari, dua anyaman bambunya dibawa seseorang yang berjanji pulang sebentar untuk mengambil uang. Abah menunggu. Lama. Namun orang itu tak pernah kembali. Dua anyaman hilang, bersama harapan kecil yang sempat Abah genggam hari itu.
“Gak apa-apa, Abah ikhlas,” ujarnya.

Lelah sering datang tanpa permisi. Ketika sesak semakin menjadi, Abah biasanya berhenti sejenak. Ia berdiri mematung di tepi jalan, tangannya mengelus dada yang terasa nyeri, mencoba mengatur napas yang terasa berat.
Namun istirahat itu tak pernah lama. Karena jika ia terlalu lama berhenti, ia takut tak ada lagi kesempatan untuk membawa pulang uang.
Bahkan tak jarang Abah terjatuh saat berjualan. Tubuhnya tak kuat menahan sesak napas dan perut lapar setelah seharian berkeliling tanpa makan. Di usia yang tak lagi muda, ia harus bangkit sendiri, memunguti kembali anyaman bambunya, lalu melanjutkan langkah yang terseok.
Dengan suara lirih, Abah pernah berkata,
“Walaupun sesak abah tetep paksa untuk jualan, kalau abah gak jualan bingung untuk makan abah sama istri di rumah, apalagi abah juga pengen segera ada uang untuk berobat.”
Tak ada pilihan lain bagi Abah. Berhenti berarti menyerah
Di saat banyak orang seusianya menikmati masa tua dengan beristirahat, Abah Mista justru harus terus memaksa tubuhnya yang sakit untuk tetap berjalan. Menembus panas dan lelah, demi sekadar bisa bertahan hidup hari ini.
**
Sahabat, maukah kamu ikut meringankan perjuangan Abah Mista?
1. Klik "DONASI SEKARANG"
2. Masukkan nominal donasi
3. Pilih metode pembayaran
4. Klik "DONASI" dan ikuti langkah selanjutnya
![]()
Menanti doa-doa orang baik